Flare Gas dan penanganan yang ramah lingkungan


“Energi adalah darah perekonomian”. Suatu negara yang memiliki tingkat kemajuan ekonomi pesat tidak lepas dari peran energi di dalamnya. Sebut saja China, negara ini tercatat memiliki konsumsi energi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat dan terbukti memiliki pertumbuhan ekonomi yang besar. Indonesia saat ini tercatat pada urutan ke-21 konsumsi energi dunia dengan nilai sebesar 114,6 million ton oil equivalent atau 1,03% dunia [BP, 2008]. Dengan keadaan seperti ini, negara kita sangat berpotensi untuk berkembang dengan pesat mengingat masih sangat banyak cadangan energi di negara kita yang belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tersebut diperlukan suatu kemandirian energi nasional.

Dalam rangka meningkatkan kemandirian energi nasional, dikeluarkanlah Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang “Kebijakan Energi Nasional”. Pemerintah menaikkan porsi energi terbarukan hingga 17 % pada tahun 2025 dengan rincian biofuel 5%, geothermal 5%, batubara cair 2% dan energi baru (angin, surya, hidrogen, dll) sebesar 5%. Diantara sumber energi tersebut, hidrogen merupakan salah satu sumber energi baru yang sangat menjanjikan karena pembakarannya yang bersih (tanpa emisi CO2). Saat ini, permasalahan lingkungan menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan sumber energi karena dunia tengah dilanda global warming yang salah satunya disebabkan oleh emisi CO2 ke atmosfer.

Saat ini, hidrogen diproduksi secara massal melalui steam reforming gas alam dengan produk samping berupa CO dan CO2. Emisi CO2 ini menjadi perhatian utama warga dunia sejak mulai terjadinya perubahan iklim dan berbagai akibat lainnya yang melanda bumi ini yang ditimbulkan oleh CO2. Dengan demikian, perlu proses baru yang sama sekali tidak menghasilkan CO2. Produksi hidrogen tanpa COx dapat ditempuh melalui proses dekomposisi termal. Melalui proses ini hidrokarbon dikonversi menjadi hidrogen dan karbon elemental.

Kandidat bahan baku yang menjanjikan untuk produksi hidrogen adalah gas alam. Cadangan gas alam Indonesia masih cukup besar dibandingkan dengan cadangan minyak, yakni 3 triliun meter kubik (1,7% dunia) dan masih bisa digunakan hingga lebih dari 60 tahun. Namun demikian, terdapat sumber lain yang sangat potensial yaitu associated gas sebelum di-flare. Associated gas merupakan gas ikutan dari hasil pengeboran minyak bumi. Perhatian perusahaan minyak di Indonesia terhadap associated gas ini masih minim, sehingga cara yang biasanya dilakukan adalah flaring dan venting. Flaring berarti oksidasi temperatur tinggi gas-gas yang mudah terbakar terutama hidrokarbon sedangkan venting adalah pelepasan secara langsung ke atmosfer yang dikarenakan kelebihan produksi asscociated gas.

Walaupun proses di atas terbilang mudah dan murah, namun dari segi lingkungan jelas keduanya berakibat buruk. Flaring akan meningkatkan emisi CO2 di atmosfer yang tentu saja akan semakin memperparah kondisi global warming saat ini. Pelepasan secara langsung (venting) jauh lebih berbahaya karena gas metan yang dilepaskan memiliki potensi global warming 20 kali lebih besar daripada CO2. Kenyataan saat ini menunjukan bahwa gas flaring pada industri migas hulu di Indonesia sangat besar, tercatat sebesar 3,5 triliun meter kubik campuran hidrokarbon dibakar dan diemisikan ke atmosfer [Gervet, 2007]. Angka ini mengantarkan Indonesia sebagai negara penghasil CO2 pada urutan ke-10 di dunia dari sektor gas flaring.

Mengingat besarnya flare gas di Indonesia, tentu menjadi suatu peluang besar untuk mengubah flare gas yang biasanya dibakar dan tanpa dimanfaatkan menjadi suatu komoditas yang bernilai jual tinggi. Produksi hidrogen yang biasanya diperoleh dari gas alam bisa disubstitusi dengan flare gas ini, apalagi ternyata kandungan hidrokarbon dalam flare gas tersebut cukup tinggi. Produk samping produksi hidrogen melalui dekomposisi termal adalah karbon elemental. Karbon tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri carbon black. Aplikasi carbon black sudah sangat luas diantaranya untuk bahan campuran ban, bahan tinta, campuran karet dan sebagainya.

Selain diperoleh hidrogen dan carbon black yang sangat bermanfaat, proses konversi flare gas menjadi hidrogen dan carbon black ini memberikan peluang yang besar bagi Indonesia untuk mendapatkan dana dari transaksi “Carbon Credit” melalui proyek CDM (Clean Development Mechanism). Seandainya, volume flare gas dapat direduksi secara signifikan, Indonesia berpotensi mendapatkan dana lebih dari Rp. 1,06 triliun per tahun. Oleh karena itu, konversi flare gas menjadi hidrogen dan carbon black dapat memberikan keuntungan ganda bagi negara kita baik dari segi ekonomi maupun lingkungan.

3 thoughts on “Flare Gas dan penanganan yang ramah lingkungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s