Proyek PLTU 10.000 MW dan Pemanasan Global


Tulisan lama yang lupa di-publish :p , dibuat sekitar 1 tahun yang lalu, saat ramai2nya terjadi pemadaman bergilir oleh PLN. sampai2 pemadaman bergilir itu terjadi di kampus…sangat mengerikan! dan sangat mengganggu aktivitas kampus, terutama penelitian dan praktikum. saat ini memang 99,9 % peralatan praktikum dan penelitian menggunakan listrik…so,, saat itu emang bener2 berhenti total.


PLTU Suralaya di Merak, Cilegon-Banten ini tercatat sebagai pembangkit listrik dengan emitter CO2 terbesar ke-11 dunia

Semua orang pasti sudah merasakan dasyatnya krisis listrik di negara kita saat ini. Betapa tidak, pemadaman listrik terjadi hampir di seluruh bagian Indonesia. Kuliah tiba-tiba diliburkan gara-gara ada pemadaman bergilir di kampus, kegiatan penelitian tiba-tiba harus dihentikan, dll.  Kegiatan usaha yang sangat tergantung listrik tentu akan sangat terganggu dengan kegiatan pemadaman bergilir ini. Kita pasti faham, tindakan itu bukan berarti tanpa dasar. Pemerintah tentu melakukan itu karena terpaksa alias tidak ada jalan lain.

Pada tahun 2008 ini kebutuhan akan energi listrik nasional diproyeksikan sebesar 130 TWh (1 TWh = 1000 GWh) dengan pertumbuhan sekitar 7 % per tahun (Muh Muchlis dkk, 2007). Kebutuhan listrik nasional tersebut digunakan sebagian besar untuk sektor industri, disusul sektor rumah tangga, usaha, dan umum. Kebutuhan listrik tersebut tidak dapat dipenuhi pemerintah karena hanya 112 TWh saja yang disiapkan PLN tahun ini. Itupun sebagian besar masih disuplai dari energi fosil yaitu sebesar 89 % (99.333 GWh)  yang terdiri dari batubara 58.668 Giga Watt hour (GWh), minyak 22.457 GWh (20%), gas 18.208 GWh (16%), sedangkan pemakaian energi nonfosil masih terbatas pada panas bumi 7.923 GWh (7%), dan air 4.415 GWh (4%).

Melalui Perpres nomor 71 tahun 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menugaskan kepada PLN untuk melakukan percepatan pembangunan PLTU dengan bahan bakar batu bara. Cadangan batu bara di negeri kita masih cukup banyak. Sepanjang tahun 2005-2006, Indonesia menjadi negara pengekspor batubara terbesar di dunia padahal jumlah cadangan terbukti batubara Indonesia sebenarnya tidak begitu istimewa, kurang lebih 12 milyar ton (DJLPE, 2007). Jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, Malaysia, konsumsi batu bara per kapita negara kita jauh lebih kecil bahkan lebih kecil daripada Thailand. Padahal kedua negara tetangga kita tersebut tergolong ‘miskin’ dengan batu bara. Jika batu bara tadi digunakan sebagai sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tentu akan lebih bermanfaat ketimbang harus kita ekspor.

Jika melihat pertimbangan ini Perpres tersebut sangat tepat dengan kebutuhan negara kita saat ini. Dalam waktu dekat PLN akan melakukan program percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara dengan jumlah 10.000 MW. Tujuannya utama Proyek 10.000 MW ini adalah untuk memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik nasional, sejalan dengan perekonomian dan peningkatan jumlah penduduk. Di samping itu pula, pembangunan proyek ini dapat mengurangi pembangkit berbahan bakar BBM sehingga mengurangi subsidi.

Apakah kebijakan ini sepenuhnya menguntungkan? Mari kita lihat aspek yang lain. Jika kita lihat dari sisi lingkungan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar PLTU memberikan dampak yang buruk. Emisi CO2 ke lingkungan akan meningkat dengan demikian pemanasan global akan semakin meningkat pula. Dampak dari pemanasan global sudah sangat terasa. Hasil pengamatan melelehnya Gletser Mer de Glace di Chamonix, Peg. Alpen, Perancis merupakan bukti nyata dampak buruk pemanasan global. Di samping itu, berkurangnya luas Samudera Es Arktik sebanyak 6 % dari tahun 1978-1995 dan hilangnya pantai karena kenaikkan permukaan laut di Teluk Waimea, Hawaii juga menjadi saksi bisu akibat merajalelanya pemanasan global di dunia. Prediksi yang lebih buruk adalah jika konsentrasi CO2 mencapai 560 ppm pada akhir abad 21, suhu di permukaan bumi diproyeksikan akan meningkat 1,4-5,8 derajat Celcius. Hal ini akan menimbulkan beberapa dampak yaitu kejadian iklim yang ekstrem (misalnya gelombang panas, badai yang destruktif,dll), mencairnya lapisan es bumi, & kenaikan permukaan air laut.

Meningkatnya kadar gas rumah kaca (GRK) ini memang tidak lepas dari kontribusi PLTU sebagai salah satu unit menghasil CO2 yang cukup signifkan. Sebuah lembaga riset independen yang berbasis di Amerika Serikat, CGD (Center for Global Development), menunjukkan di mana penghasil gas CO2 berada dan berapa banyak gas CO2 yang dilepaskan ke atmosfer dan menyebabkan kenaikan efek rumah kaca. CGD menjelaskan bahwa pembangkit listrik merupakan kontributor terbesar penghasil CO2 (sekitar 25 % dari total emisi CO2). CGD mengumpulkan data dari sekitar 50.000 pembangkit listrik di seluruh dunia. Hasilnya sungguh sangat mencengangkan, PLTU Suralaya tercatat pada urutan ke-11 sebagai pembangkit listrik yang menghasilkan emisi CO2 terbesar di dunia dengan volume emisi 27,2 juta ton.

Lantas bagaimana dengan proyek 10.000 MW tadi? Bukannya memberikan solusi sebaliknya malah mendatangkan masalah baru yaitu pemanasan global yang kini tengah gencar-gencarnya diperangi di seluruh negara di dunia. Karena merajalelanya global warming, beberapa waktu lalu diadakan Konfrensi Internasional Perubahan Iklim Global di Bali yang diikuti oleh hampir seluruh negara di dunia. Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara pengemisi CO2 terbesar ketiga di dunia setelah Amerika serikat dan China. Memang penyebab utamanya adalah proses pengrusakan hutan alam, praktek pembakaran hutan dan lahan. Namun demikian, kehadiran PLTU tetap memberikan kontribusi memburuknya citra Indonesia tersebut. Kehadiran pembangkit listrik yang ramah lingkungan sangat kita tunggu sekarang ini agar tidak menimbulkan masalah baru. Pembangkit listrik tersebut tentu saja harus memiliki cadangan yang melimpah sehingga mampu menuhi kebutuhan listrik dalam negeri. Geothermal mungkin salahsatu yang bisa dipertimbangkan. Kenapa Pemerintah nggak kembangkan geothermal aja ya? Kan lebih ramah lingkungan tuh……

One thought on “Proyek PLTU 10.000 MW dan Pemanasan Global

  1. geothermal juga dikembangkan pak, Rekind sudah beberapa kali membangunnya.
    tapi kan ada keterbatasan tempat, dimana Pembangkit Listrik Geothermal ini cuma bisa dibangun dilokasi tertentu, bukankah begitu?
    saya juga sedang memikirkan masalah diatas, antara kebutuhan pasokan listrik dan kerusakan lingkungan akibat CO2,
    sayang tulisan ini belum memberikan solusinya, saya juga belum punya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s