Terima Kasihku yang tak Terhingga


a social body of Teknik Kimia ITB 2005

Dua hari yang lalu, saya baru saja menjadi salah satu interviewer untuk beasiswa TK’05 Foundation. Lembaga sosial TK’05 yg didirikan sekitar 6 bulan yg lalu yang menghimpun dana kecil-kecilan dengan menyisihkan sebagian gaji kami. Tidak banyak sebetulnya, target kami hanya cukup untuk membiayai SPP untuk 5 orang anak saja. Satu tahun sudah TK’05 meninggalkan kampus ITB dan kini sudah bisa memberi bantuan untuk adik-adik angkatan seandainya ada yang kesulitan dalam membayar SPP.  Saya sungguh terharu dengan kesediaan semua TK’05 dalam menyisihkan sebagian gajinya itu. Tak mudah lho, bagi seorang yang baru lulus, baru kerja bahkan masih mahasiswa (S2) untuk menyisihkan uang setiap bulan.

Begitupun meng-organize nya hingga terkumpul uang yang cukup. Biasanya, masa-masa pertama berpenghasilan adalah masa untuk “berfoya-foya”. Gak masalah sih, tak ada yang melarang juga karena semua yang kita pakai adalah jerih payah kita. Namun ternyata mereka tidak seperti itu. Two thumbs up for all of u guys!

Ini dia! orang yang paling berjasa! Bapak saya sampai nangis ketika pembacaan doa di wisudaan saya…..saking terharunya

Melihat setiap kandidat diwawancara, saya tiba-tiba teringat dengan kisah yang saya alami selama kuliah. Saya bisa kuliah karena beasiswa🙂  Orang tua saya hanya bisa support doa dan sebagian kecil biaya hidup. Saya tidak menyalahkan orang tua saya ataupun Allah SWT atas kondisi saat itu. Justru dengan itu saya bersyukur karena Allah SWT ternyata membimbing saya untuk menjadi seorang yang tough. Sejak lulus SMA, orang tua memang tidak mengizinkan untuk kuliah. “ITB kan mahal, Hanya bisa dijangkau oleh orang-orang kaya saja, begitulah pikir orang tuaku saat itu. Namun entah kenapa saya tetep nekad. Saya persiapan SPMB sendiri. Tidak ikut bimbel kecuali yang gratis. Ngurus-ngurus daftar sendiri hingga registrasi ulang di kampus saat dapet pengumuman diterima di Teknik Kimia. Semuanya serba nekad. Orang tua saya pun tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa ngasih doa setiap kali berangkat ke Bandung.

Dan ternyata Allah mengabulkan doa orang tua saya itu. Saya bisa menyelesaikannya tepat 4 tahun dengan hasil yang tidak jelek. Semuanya praktis tanpa hambatan yang berarti. Alhadulillah, beasiswa –beasiswalah yang menjadi jalan saya bisa kuliah. Seumur hidup, saya tidak akan pernah lupa mengenai ini. Selama kuliah, setiap semester saya selalu mendapat beasiswa, sebagai berikut:

  1. Semester 1: Beastudi Etos
  2. Semester 2: Beastudi Etos
  3. Semester 3: Alumni TK’90 PUSRI
  4. Semester 4: Beasiswa subsidi silang ITB
  5. Semester 5: Alumni TK’90 PUSRI
  6. Semester 6: Salah satu Dosen TK, namanya Pak Sanggono Adisasmito
  7. Semester 7: Alumni TK’89 – HIMATEK ITB
  8. Semseter 8: Alumni TK’02

Saya masih ingat. Setiap awal semester saya punya rutinitas yang berbeda dibandingkan teman-teman saya yang lain. Ya! Mengurus penangguhan SPP. Mulai dari pengambilan formulir, pengisian surat keterangan dari RT, RW, desa, bolak-balik dosen wali untuk tanda-tangan, minta transkrip akademik setiap semester ke TU,  wawancara ini-itu, ngatri, dll. Itu saya lakukan di setiap awal semester. Selalu! Berat sih, tapi karena sudah biasa ya jadinya ringan. Bahkan pas pertama kali registrasi ulang sebagai mahasiswa ITB di SABUGA, saya terkesan seperti “di ping-pong” karena saya menangguhkan SPP dan biaya awal masuk padahal yang lainnya tidak. Malu?? Sekali lagi saya katakan TIDAK! Beruntungnya Saya punya punya senior-senior SMA yang baik, mereka banyak membimbing saya. Untuk urusan-urusan semacam itu saya menjadi terbiasa karena dari awal saya sudah melakukannya.

Untuk biaya hidup saya peroleh secara bervariasi. Saya pernah apply berbagai jenis beasiswa. Ada yang dapet ada yang tidak. Selama 4 tahun kuliah, tercatat ada 4 beasiswa yang saya terima untuk biaya hidup, sebagai berikut:

Beastudi Etos – Dompet Dhuafa

Beastudi Etos, LPI – Dompet Dhuafa.

3 tahun lebih tinggal gratis di asrama, uang bulanan selama 3 tahun, pembinaan (diniyah, leadership, akademis dan kewirausahaan) harian-pekanan-bulanan, kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, temu tokoh nasional dan persaudaraan yg erat diantara kami sesama penerima beasiswa baik dalam satu region (Bandung) maupun 8 region lain ( 10 universitas) dari seluruh Indonesia.  Terima kasih banyak.

Beasiswa Bank Indonesia.

tidak rutin seperti beasiswa pertama. Dapet nya sekali saja.

Bantuan dari salah satu dosen Teknik Perminyakan.

Namanya Pak Rudi Rubiandini. Dapetnya agak-agak informal. Saya mendapatkannya ketika baru masuk ke kampus. Atas petunjuk dari senior SMA saya dan salah satu prof di Matematika ITB saya bisa bertemu dengan beliau. Setelah ngasih uang (cash) beliau malah berterima kasih sama saya, justru harusnya saya yang berterima kasih.

Beasiswa Peningkatan Prestasi Ekstrakulikuler ITB

Minimal ikut ajang Nasional untuk bisa dapet beasiswa ini.

Beasiswa TK 2002

dari alumni TK angkatan 2002, dapetnya sekali saja.

Untuk semuanya itu, saya ingin mengucapkan Terima Kasih yang tak terkira untuk para donatur yang terlibat dalam beasiswa itu. Semoga Allah SWT membalas semua itu. Dan semoga suatu saat saya bisa seperti mereka-mereka. Memberi beasiswa. Amiiin.

Mengandalkan beasiswa saja, tentu tidak cukup. Untuk menambah-nambah biaya hidup itu, Saya pernah ngajar di berbagai lembaga privat TPB  dan SMA. Saya pernah jadi asisten mata kuliah , asisten laboratorium, ikut proyek kecil-kecilan dan terlibat dalam beberapa lomba menulis dan penelitian. Bahkan lomba ini cukup memberikan saya pemasukan yang signifikan. Memang benar peribahasa yang mengatakan dimana ada niat, disitu ada jalan. Memang selalu adaaaa saja pemasukan untuk menyambung hidup itu. Entah dari mana. Ya seperti doa orang tua ketika saya hendak berangkat ke Bandung. Alhamdulillah semuanya lancar…

Ya begitulah masa kuliah saya. Saya tidak pernah lelah untuk terus menyambung hidup. Dan saya sedikitpun tidak merasa malu berstatus sebagai “dhuafa” karena saya buka sembarang dhuafa, saya adalah seorang “Duren” a.k.a Dhuafa keren. Haha. Saya tidak memandangnya sebagai suatu kesialan atau cobaan. Alhamdulillah saya telah menjalaninya dengan penuh syukur. Terima Kasih Ya Allah, atas segala kemudahan-kemudahan yang telah diberikan. Dan terimakasihku yang tak terhingga untuk orang-orang yang terlibat dalam pemberian berbagai beasiswa yang saya terima.

Oke, kembali lagi ke TK’05 Foundation. Lamunan saya mengenai nostalgia masa kuliah itu teralihkan saat seorang kandidat pertama memperkenalkan diri. saya menikmati betul proses wawancara setiap kandidat yang masuk.  setelah semua kandidat di wawancara, saya bersyukur, ternyata tak ada satupun kandidat yang kondisinya memprihatikan seperti saya. Ini berarti semakin hari junior-junior saya itu semakin banyak yang lebih sejahtera. Namun mereka tetap saja membutuhkan beasiswa itu. Kemungkinan lain adalah banyaknya beasiswa di kampus. Nampaknya jauuuuuuuh lebih banyak dibandingkan zaman saya kuliah. Dan rata-rata beasiswanya jauh lebih edan. Banyak yang sepaket (Uang bulanan dan SPP) tak tangung2 hingga lulus. Buset! Ada yang dari Pemprov jabar, Bidik Misi, Shell, PPA, Tanoto, GE, Pertamina, dll, dll, dll, dll. Amat sangat banyak, begitulah kata junior di asramaku. Yang diperlukan sekarang adalah kemauan saja. kemauan untuk mencari beasiswa itu. Nampaknya sudah gak jaman lagi, seseorang tak melajutkan kuliah atau tidak jadi masuk kuliah dikarenakan biaya. Tapi, masalahnya tidak seperti itu ternyata, orang-orang di daerah dan yang belum tahu, masih saja beranggapan kuliah (terutama di ITB) itu sangat mahal! Paling mahal dibandingkan kampus-kampus lain! Menurut saya justru murah, bahkan paling murah dibandingkan kampus lain (haha, karena tidak tahu kondisi kampus lain seperti apa),,karena cuma menuntut kemauan saja. dengan itu saja, everything’s gonna be okay! Tak percaya? Silakan saja dicobt trust me, it works!

Khusus untuk rekan-rekan TK’05, saya bangga jadi bagian dari kalian semua.

May Allah Appreciate for every single rupiah you gave away through this.

We are rich only through what we give – Anne Sophie

10 thoughts on “Terima Kasihku yang tak Terhingga

  1. Agussss….😥
    Ceritanya sangat inspiring..
    jadi makin kagum ;D
    sama malu dengan diri sendiri yg take everything for granted..mesti belajar dr agus untuk lebih gigih nihhh…
    Anda keren, bung!!!
    sy masukkin ke link di tumblr sy boleh ga, gus?sangat2 inspiring soalnyaaa😀

  2. Hey Ka..
    blogwalking nih..
    Hehe..

    Posting “perjalanan hidup” kaka dong.. dari awal ampe sekarang bisa kayak gini.. dan semua cita-cita serta mimpi-mimpi kaka (baik yang udah tercapai sampe yang belum tercapai)..
    terimakasih..
    keep inspiring!
    ^^

    woiya, saya mahasiswa itb juga ka.. tapi angkatan 2008..

  3. wow sangat inspirasi neh..man jadda wa jada “siapa yang bersungguh2 akan mendapatkan hasilnya”..pengalaman ente sungguh buat ane merasa malu ga bersyukur selama ini, emm tapi ga ada kata terlambat buat memperbaiki diri n selalu bersyukur apa yang diberikan yg Maha Kuasa..
    btw pak Rudi Rubiandini mantap jg dah ahli drilling baik hati pula ooow dosen idola banget tu hehehe

  4. @Ade: Terima Kasih🙂 Beliau emang inspiratif dan keren,,,juga dermawan. dia emang gak kenal saya tapi saya pasti ingat jasa-jasanya. hehe.

  5. Assalamu’alaikum, ,
    Kang Agus masih emut k abdi,,
    Syukur alhmdlh,, Kisah perjalanan kang Agus tak jauh bedanya dgn Perjalanan hidup saya,,
    Mudah2an aruran kalebet jalmi2 anu tiasa bersyukur,,
    Syukron atas Informasi Insfiringnya. .

    Salam,,
    Aceng Salim

  6. waalaikum salam,,,eh, aya kang aceng. masih emut atuh. hehe. iya, mudah2an kita semua digolongkan ke dalam orang yg senantiasa bersyukur. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s