Road Trip to Ladakh and Drama on One of the Deadliest Anti-India Protest in Kashmir


Okey,

Karena punya jatah libur banyak, perjalanan dari Kashmir ke Ladakh saya putuskan menggunakan jalan darat, selain atas anjuran teman di rig yang selalu bilang, “Sayang sekali kalau pakai pesawat, you’re gonna miss himalaya’s magical terrains”. Saya manggut-manggut aja pas teman nunjukin foto-foto Ladakh sepanjang Srinagar-Leh Highway. Bagus sekali. Oke fix nih, I’ll do it whatever it takes.

***

Long story short, Sebelum ke ladakh, saya travelling-solo di kashmir mulai 5 Juli 2017 selama 5 hari. Sangat menyenangkan. Banget. Saya berhasil jadi orang paling ‘norak’ karena sering selfie dan banyak ambil foto. Dalam hati, ah peduli amat, gak ada yang kenal ini kok. :mrgreen: . Alamnya kece banget subhanallah: puncak-puncak bersalju, rerumputan hijau yang rapi bagai karpet, pohon-pohon pinus yang runcing, sungai berkelok dan lembah-lembah yang curam. Ah, Indah pokoknya.

Karena timing yang tidak tepat, sekitar bulan Juli awal, baru tahu juga dari si host houseboat, katanya akan ada demo dari kelompok separatis (semacam demo tahunan 😯 ) yang biasanya bertepatan dengan agenda prilgrim umat hindu, atau biasa disebut Amarnath Yatra. Kalau di kita, semacam naik haji kurang lebih.

Aduh, aing salah waktu ini mah. 😥 😥

20170706_222442.jpg

Makan malam di rumah si pemilik houseboat, in the middle of Dal Lake.

Si host bilang “Selama 2 hari, seluruh sopir taksi tidak akan beroperasi, karena takut  anarkis”. Saya mengira semua warga Kashmir akan demo, karena semua orang Kashmir yang saya temuin dan saya tanya, semuanya mengatakan ingin merdeka dari India, ternyata nggak semua orang akan demo. Si host saya bilang, “Not all Kahsmiri going to do the strike, just some stupid people”. Warga kebanyakan sebenernya kurang suka dengan gerakan-gerakan ekstim seperti itu karena akan memperburuk citra Kashmir di mata turis. Apalagi 90% ekonomi Kashmir sangat tergantung dari sektor pariwisata. Dia melanjutkan “Tapi tenang, demo biasanya dipusatkan di kota Srinagar-nya, jadi, sekitaran Dal Lake aman kok” si bapak houseboat mencoba menghibur.

Fiuhhhhh, mencoba untuk tidak stress sambil menghela nafas panjang.

Saya baru ngeh kenapa sejak 2 hari terakhir internet di Kahmir mati total. Kampret juga nih India. Si host akhirnya ngomong “Kalau kamu gak dapet taksi ke Ladakh, kamu masih boleh stay disini, for free, including food and everything. You’ve been so kind to us and I feel responsible for your safety. Mulai panik, saya hendak telepon boss di Mumbai, gak bisa juga ternyata. Pokoknya telepon dan internet metong. Total. Pusing ga lo? 🙄 🙄

Dal Lake

Dal Lake yang Sepi

Keesokan paginya, Dal lake beneran sepi. Saya dibangunin si bapak host buat sholat subuh dan bersiap-siap untuk pergi jam 5 pagi, lantas diantar pake boat ke daratan. Heniiiing banget. Sebelumnya si host bilang, akan ada driver yang jemput, namun sudah sejam berlalu sejak saya sampai di Ghaut 13, saya masih belum dapet apa-apa. Si bapak host sibuk telepon sana-sini.

Sambil menunggu, saya ketemu orang Czech, namanya Stepan, yang sama-sama mau ke Ladakh. Karena senasib, akhirnya kita ngobrol-ngobrol saja untuk mengisi waktu. Selain dia, ada juga warga Delhi, kalau salah namanya Rohit, yang sama-sama terdampar di sana. Dia selesai mengukuti Amarnath Yatra dan hendak ke Srinagar Airport tapi gak ada taksi atau bis yang mau mengantarkan. Beberapa jeep dateng dan jemput beberapa orang. Sementara kami masih belum dapet juga. Selang 30 menit, dua orang tadi sudah dapet angkutan, tinggal saya saja sendiri.

Tepat jam 07:00, akhirnya jeep buat saya datang, sopirnya turun dan bilang ke saya, Nambah 200 Rupee ya, Tanpa pikir-pikir panjang saya setuju aja dari pada bengong dua hari di Kashmir ga bisa kemana-mana, yekan? Si driver lantas menjemput 2 turis Swiss dan menyuruh saya duduk di belakang karena badan saya kecil. kampret 🙄 . Setelah itu, mulailah kami berangkat menuju kota Leh, yang katanya perjalanan akan ditempuh dalam waktu 14 jam, namun baru jalan beberapa kilometer,

Jreng…Jreng…Jreng…

Jalan utamanya ditutup 😯 😯 Banyak banget Indian Army yang berjaga di situ. Akses jalan ditutup kawat-kawat berduri. Persis macam di film-film. Si sopir coba putar arah ke jalan lain, diblok juga. Pindah  ke jalan lain, diblok juga. Pusing dia. Si Indian Army literally stay every 5 meters mempersiapkan demo tahunan kelompok separatis Kashmir.

Setelah muter-muter lama, sampailah kami di check-point di deket desa Ganderbal, se-jam sebelum Sonamarg. Itu beneran deh, si Indian Army gak bisa diajak kompromi. Mau ke luar kashmir aja ga boleh, kan kampret 😡 . Kenapa mesti ga boleh coba? kan kita turis semua. Semua sopir dengan gak sabar melobi-lobi para penjaga check point yang semuanya menenteng senjata laras panjang. Semua mobil parkir gak karuan, kayanya ada sekitar 6 jeep di sana dan semua penumpangnya pada stress, termasuk saya. Tak lama setelah itu tiba-tiba:

Dor. Dor. Dor.

Anjir, benaran lah itu bunyi senjata asli. Tapi, itu tembakan peringatan saja, tetep aja sih ngeri. Sontak semua driver tiarap. Orang-orang di dalam mobil pada menunduk juga. Kayanya, kalau saya di luar mobil udah ngompol di celana kali. Tegang bro! Kami lantas menunggu sambil banyak berdoa. Si sopir beberapa kali keluar-masuk mobil sambil setengah marah, ngomong ke si asistennya paka bahasa Kashmir. Kalau ngomong hindi mungkin bisa nangkep sedikit-sedikit apa yang sebenarnya dia keluhkan. Kami para turis gak ada yang berani bertanya, bengong aja, sebagian ada yang pura-pura tidur.

Setelah se-jam menunggu yang terasa sangat lamaaaa banget, si driver akhirnya masuk mobil dan ngacir sekenceng-kencengnya. Gate dibuka!

Alhamdulillah.

20170708_062546.jpg

Para sopir berlarian sesaat setelah pengumuman check-point di district ganderbal di buka, ini poto satu-satunya yang kuambil dalam drama hari itu. 

Yes, liburan sesungguhnya dimulai 🙂 . Setelah lewat Sonamarg, landscape mulai berubah. Dari pegunungan hijau dan padang rumput rapi pelan-pelan berubah menjadi gunung-gunung berbatu dan berwarna kecokelatan. makin ke sana semakin gersang. Ini masih di dalam Himalaya’s mountain range loh ya, gersang susah air, tapi super dingin. Beneran deh, indah sekali alam-alam himalaya sepanjang jalan Kashmir-Ladakh ini. Sesekali kita diizinkan keluar mobil untuk foto-foto, tapi sebentar banget. Sopirnya tampak sedang kejar setoran disamping takut kemalaman. Bahaya. Dari situ lah, saya bertekad untuk sewa motor dan jalan-jalan lagi menyusuri beberapa spot keren yang kami temui di jalan.

Camp amarnath yatra

Camp para jemaah Amarnath Yatra terlihat jelas dari Zoji La Pass

zoji la

Narsis di sini hukum nya wajib

20170714_151014.jpg

Lamayuru Monastery

20170714_111310.jpg

Sungai Indus

Setelah 12 jam ditemani dengan playlist musik hindi (mulai dari lagu-lagu remix ga jelas, lagu jaman Kuch-kuch hota hai sampai lagu-lagu kontemporer semacam OST Ae Dil Hai Mushkil), kami sampai di Leh dengan bahagia. Namun, tak lama setalah itu orang-orang mulai heboh. Ada apa sih? ada apa sih? Saya mulai kepo. Orang-orang yang turun dari mobil pada panik sambil bertanya-tanya. Ternyata kami mendapat kabar ada 9 orang jamaah yatris (sebutan orang yang pilgrim ke goa Amarnath) tewas dalam Yatra Attack setelah 1 bus nya kena serangan di check-point dekat Pahalgam. It was jaw-droppingly scariest news I’ve ever heard on that day  😯 😯 Gak kebayang, seandainya saya  masih stuck di Kashmir, entah akan seperti apa jadinya. Alhamdulillah, pokoknya sudah sampai Ladakh dengan selamat.

Saat ngobrol-ngobrol tadi, eh ketemu lagi ama si Stepan, dan ketemu juga seorang cewek dari Aberdeen dan seorang cowok dari Goa, India. Akhirnya, hampir selama 10 hari di Ladakh, bareng dengan orang-orang itu. Mayan, bisa berhemat untuk hotel, sewa jeep dan tentunya ada teman ngobrol. 🙂

G0352280.JPG

At the top of Leh Town

Jadi, “aman gak sih travelling ke Kashmir?”

Saya bisa katakan: Tergantung.

Tergantung kapan waktunya kalian pergi ke kashmir. Sebisa mungkin hindari sekitaran bulan Juli (menurut pengamatan gue ya, karena kata si bapak driver gue, demo tahunan biasanya bulan juli) atau seengaknya hindari travel ke Kashmir pas sedang ada Amarnath Yatra. Itu aja. Di luar waktu itu, Kashmir insyaallah super aman.

Agenda tahunan Yatra ini di satu sisi jadi sumber penghasilan besar buat warga Kashmir karena banyak banget turis india yang berkunjung ke sana, di sisi lain menimbulkan semacam konflik bagi kelompok anti-India.

Ngeri lah Bro!

Mau Solo Backpack ke Ladakh? Baca Dulu Ini


20170710_143115.jpg

Pangong Tso, danau glacial di perbatasan India-Cina, salah satu tempat syuting film 3-idiots.

Julley!

Jujur ya, ini solo backpack saya pertama kali dan rasanya saaaaangat menyenangkan. Ada plus-minus nya memang, tapi plus-nya jauh lebih banyak. Awalnya, gak suka loh travelling sendiri karena kepikiran pasti bakal garing, ga ada teman ngobrol. Namun, saya sudah ajak beberapa orang teman, gak ada yang bisa. Saya bahkan ngikutin thread di BPI untuk tujuan India, gak ada yang pas waktunya. Akhirnya, bismillah aja lah, solo travel jadi pilihan terakhir.

Menurut saya, Ladakh termasuk ramah banget buat solo-traveler, bahkan lebih ramah di banding Kashmir. Di Ladakh, harga sewa jeep dan motor di semua agent sama, karena ada koperasinya. Jadi, kecil mungkinan kena scams. Kalau belum ada partner, nanti dicariin buat sharing ride dengan yang lain. Pokoknya, asik deh.

Nah, bagi yang hendak solo travel ke ladakh, tips di bawah ini sepertinya berguna :

1. Do a lot of Research

20170709_135936.jpg

Leh Town, Capital of Ladakh, India’s Northernmost State

Menurut saya ini top tips! namanya juga backpack pasti budget jadi pertimbangan, itu tentu perlu planning yang matang. So, tetapkanlah dari awal tempat mana yang mau dikunjungi, naek apa kesana, perlu pakaian apa, makanan di sana gmn, cuaca, harga penginapan, peta kesana, Do and Don’ts, contingency plan, dll. Gak usah bingung, Googling bro! jaman sekarang serba gampang.

Dulu biasanya saya bikin excel, itinerary super lengkap, setiap kali mau jalan-jalan. Tapi kali ini gak sempat 😥 . Saya cuma pergi dengan alokasi waktu dan tempat yang hendak didatangi, sisanya googling sepanjang jalan. Gila ya kalau dipikir-pikir.

Tapi, ada serunya sih, jadinya apa-apa serba surprise :mrgreen: . Misal karena satu dan lain hal, gue baru bisa beli tiket Mumbai-Delhi 4 jam sebelumnya, mahal deh jadinya. Abis itu, pake ada acara ketinggalan pesawat segala. Flight Delhi-Srinagar telat pesawat gara-gara telat check-in 10 menit, mahal lagi deh 😥 😥 . Tanpa planning, kacau memang. Jangan di tiru ya gaes

Oia, saya juga baru tahu ternyata udara di Ladakh itu kering, jadi bibir rawan pecah-pecah. So, sebaiknya kalian bawa lip-balm. Ladakh juga sangat berdebu, Jadi, disarankan bawa masker atau buff. Memang bisa beli juga di sana tapi, kalau lo punya di rumah ngapain juga kan beli, yekan? Kan judulnya backpack. Kalau nggak pake, siap-siap aja upil lo segede-gede batu. Panen deh tuh. 😆

2. Jangan Pake Pesawat

Ini khusus buat traveller yang punya banyak waktu 🙂 , kaya saya yang waktu itu dapat libur 35 hari. Jalan-jalan di Ladakh saya cuma 10 hari saja dan merasa gak cukup.

Yang saya maksud jangan pakai pesawat di sini adalah kalau kalian berada di Srinagar, Kashmir atau Delhi (baca: del-li, bukan del-hi 🙂 ), sebaiknya lewat jalur darat saja. Saya berangkat pake pesawat dari Mumbai ke Delhi lanjut dari Delhi ke Kashmir. Nah dari Kashmir saya baru pakai jalan darat. Kalau gak ada niat untuk jalan-jalan di Kashmir, dari Delhi bisa langsung ke Kota Leh lewat Manali, tapi katanya kenaikan altitude-nya ekstrim. Rawan terkena AMS buat kita-kita yang terbiasa hidup di dataran rendah.

20170708_091341.jpg

Srinagar-Leh Highway

 

20170714_111310.jpg

Indus River, dekat Srinagar – Leh Highway

Perjalanan darat memang capek, perjalanan dari Srinagar ke Leh bisa 14 Jam, tapi pemandangan sepanjang jalannya masyaallah 😯  😯  . Begitupun sepulangnya dari Ladakh, Saya menghabiskan 3 hari dari Ladakh-Manali-Delhi. Jalannya malah lebih spektakuler lagi. Insyaallah gak rugi dah 🙂 . Kalau cukup nyali, rasanya saya mau rental motor saja atau naek sepeda biar bisa cekrak-cekrek sesuka hati. Kalau rental jeep, drivernya seringnya kejar setoran, jadinya terbatas banget waktu buat poto-poto di jalan.

20170716_143300

Leh – Manali Highway

 

3. Gak Perlu Pesan Hotel duluan

DCIM104GOPROG0352277.JPG

Temen yang paling sering jalan bareng selama di ladakh

Mending on-the-spot aja, percaya deh. Gak perlu takut kehabisan hotel. Peak season di Ladakh itu sekitar bulan Juni-Agustus dan saya ke sana pas Juli awal, alhamdulillah masih dapet. Malah ada untungnya datang pas high season gitu, gampang dapet sharing ride dan tourist dari mana-mana dateng, banyak teman.

Kalau solo travel, sebaiknya cari guest house tipe dorm yang se-kamar bisa 5-10 orang. Harganya jauh lebih murah, sekitar Rs 350-500 (Rp 70,000-100,000), dibandingkan dengan hotel dengan kualitas kebersihan yang sama seharga Rs 1000 – 1500. Di dorm, biasanya internetnya kenceng dan banyak orang asing nya. Banyak solo-traveller juga. Jadi nanti bisa barengan saat berkunjung ke tempat lainnya. Asik deh!

Selama tiga hari, saya nginep bareng orang Czech, sharing kamar di guest house. Sehari sharing ama orang India, dua hari sharing ama orang Korea, sisanya di dorm yang penuh dengan turis-turis asing. Karena tujuan hampir mirip, kami akhirnya kemana-mana barengan; ada 1 orag India, 1 orang Czech, 1 orang Scotland. Di dorm, pinggir kasur gue cewek jepang (cakep banget, duhh 😉 ), karena berbeda tujuan, jadinya gak nge-trip bareng deh, sayang sekali.

4. Bawa Tissue Basah dan jangan makan pedas

20170710_122704.jpg

Perjalanan menuju Pangong Tso

Kalau traveling ke Ladakh jangan manja, di sana susah air cuy! Di perjalanan ke destiansi wisata, most of the time, lo harus ke toilet outdoor. Pipis kuda gitu loh pinggir jalan 😆 . Bahkan cewek juga. Kalau bisa jangan mules ya, pliss 🙂 . Gak kebayang soalnya kalau harus boker outdoor di dataran yang sama sekali gak ada pohonnya. Mungkin kalian biasa naek gunung di Indonesia yang mana pendakinya suka boker tuh sambil sembunyi di semak belukar, tapi kalau di Ladakh, area nya terbuka banget. Berabe. Jadi, plisss ya jangan mules, kalau pun terpaksa, jangan lupa bawa tissue basah.

Toiletnya di  rest area rata-rata toilet kering. Cuma bangunan kecil lantainya dibuat agak tinggi abis itu di lubangin, e*k-e*k berserakan di bawah lubang. Bau pesing dan kurang nyaman. Iyukhh banget lah 🙄

5. Bawa Obat AMS

G0502472.JPG

Khardung La, yang katanya the world’s highest motorable road at 18,380 ft

20170713_105105.jpg

Nubra Valley as seen from Diskit Monastery

Udah ada tahu kan ya AMS itu? Acute Mountain Sickness atau Altitude Sickness, respon tubuh yang ditandai dengan pusing, sakit kepala, sesak nafas, dll akibat lingkungan yang level O2 nya tipis dan pressure yang redah. Bisa fatal loh ini kalau berkelanjutan. Wah, saya kecolongan banget nih. Dari awal saya sengaja ke Leh lewat Kashmir karena katanya, kenaikan altitude nya bertahap, jadi tubuh sudah bisa adaptasi.

Emang kerasa banget sih. Saat sampai di Leh, temen-temen saya di guest house ngeluh sakit kepala, saya fine-fine aja. Dalem hati Yes, I’m well-acclimatized 😎 , udah jumawa tuh, ngerasa tenang ga beli obat AMS. Eh, pas saya sampai Pangong Tso besoknya, kepala nyut-nyutan, agak linglung, nafas sesak, setiap jalan dikit rasanya gak enak. Terpaksa deh tiduran dulu sampai sejam 😦 . Sayang kan, waktu yang cuma beberapa jam saja dihabiskan di tempat tidur. Baru deh nyesel gak beli obat AMS. Akhirnya minta ama temen orang India. 😆

20170710_112706

Chang La, yang katanya “the second highest pass in the world” at 17,590 ft

6. Pakai Sun Screen

20170712_165950

Hunder Sand dunes di Nubra Valley. Terkenal dengan unta nya yang punya dua punuk.

Sepulang nya dari Ladakh badan saya belang! 😆 😆 😆 . Saya saranin banget, pake sunscreen dengan SPF yang gede sekalian, dan tiap beberapa jam di top-up. Bagi cowok ga usah jaim ya brooo, ini buat kesehatan. Banyak kok rider-rider yang kelimis banget pake sun screen. Ladakh itu berada di ketinggian di atas 3500 mdpl, sudah pasti itu UV-nya lebih intens.

 

7. Download Offline Maps

20170714_142226

Moonland, jalan sepanjang 9 km, menurut saya ini paling spectakuler sepanjang Srinagar-Leh highway

Tips ini berguna kalau kalian berniat untuk sewa motor. Touring di Himalaya itu salah satu aktivitas cetarrr selain hikingBanyak orang yang sehari dua hari sewa motor, terus keliling ke salah satu destinasi yang dekat, misal Thiksey monastery atau nonton pertandingan polo, dll. Supaya gak kesasar, pastikan download offline maps di HP mu. Kayanya tanpa offline maps gue bakal kesasar, soalnya banyak persimpangan jalan yang membingungkan. Btw, Jammu and Kashmir itu satu-satunya state di India yang cuma bisa pake post-paid SIM card, katanya alasan security. Nah, pastikan selagi dapet wifi di guest house, download tuh maps yang lengkap.

Saya sehari coba sewa motor touring ke Lamayuru Monastery sejauh 140 km. Saya sewa motor matic 110 cc (Rs 700 -800 / hari), kaga sanggup cuy kalau bawa Royal Enfield kaya orang-orang. 😆  😆 . Alhasil, saat di tanjakan, motor saya termehek-mehek, maksimal cuma 20 km/jam, kasian banget. Jangan lupa bawa action cam yah, taro di helm atau di depan. Beuhh, udah berasa orang paling keren se-dunia dah 😎 .

 

8. Be Nice!

G0572658.JPG

tipikal jalanan sekitar Khardung La menuju Leh

Karena seorang solo traveller kemungkinan besar bakal sharing dengan yang lain, jadi berbaurlah. Jangan egois. Sharing taksi ke tempat tujuan wisata biasanya maksimal 6 orang. Yang saya rasakan, duduk di depan itu yang terbaik soalnya kalau mau rekam video atau ambil foto bisa sangat leluasa. Nah, masalahnya, kebanyakan orang mau di depan. Jadi, cobalah untuk empati dengan yang lain. Kalau kalian keukeuh pengen duduk di depan, ya jadinya yang lain gak hepi. Akward deh sepanjang jalan.

Coba lah untuk ngobrol macem-macem. Biasanya kalau traveler topiknya kebanyakan tempat wisata. Biasanya traveller dari negara lain banyak nanya ke kita tentang Bali atau Borobudur. Kalian bisa mulai kenalin mereka dengan spot bagus dan unik lainnya macam Komodo atau Toraja. Saya ama temen traveler lain ngobrolnya ngalor ngidul sampe ke brexit, geologi, city planning, yoga, politik, operasi plastik, dll. kocak deh! Seru loh dapet wawasan banyak jadinya.

9. Enjoy the Moment

20170716_104324.jpg

Istirahat sebentar di dekat Danau Tso Kar

Sebagai millenials, saya faham kalau mendokumentasikan perjalanan itu penting. Tapi jangan lupa untuk enjoy the moment. Alam di sekitar Himalaya itu luar biasa indah, jadi sempatkan waktu sejenak untuk merenung, bertafakur dan bermuhasabah *tsahhhh 😆 . Saat ke danau Tso Moriri, saya sangat menikmati jalan-jalan sendiri sambil dengerin suara gemercik air. Damaaaai banget rasanya.

20170715_181357.jpg

Tso Moriri

10. Siapin Uang Back-up

 

20170717_094042.jpg

Rohtang Pass, Manali

Solo travelling itu bisa hemat bisa juga bengkak, tergantung tingkat “research” yang lo lakuin. Kalau kurang research, kemana-mana sendiri, jatuhnya bisa mahal. Oia, tingkat keamananan di Ladakh jauh lebih baik dibanding daerah India lainnya. Bawalah uang cash secukupnya dan siapkan sisanya di ATM. Di Ladakh ada beberapa ATM. Sekali narik charge-nya Rs 200 (Rp.40,000). Kalau punya CC lebih baik, bisa buat narik cash juga kan kalau ada apa-apa.

Enjoy Ladakh!

 

 

 

What to Do in Mumbai


Mumbai?

It’s home of Bollywood. Pusat bisnis dan hiburan India. Dunia malam paling fabulous se-India. Tempat berbasisnya para konglomerat dan artis-artis India. Kota paling besar dan paling padet (jauh lebih gede dan padet dari Jakarta). Salah satu kawasan kumuh paling luas di dunia. Udara kotor, kalau lagi kemarau berdebu. Kalau lagi hujan becek. Lalu-lintas kacau, klakson super berisik. Banyak scams. Kota favorit warga India (bahkan banyak warga Nepal) untuk mengadu nasib. Biaya hidup mahal. Apalagi ya? 🙄

Menurut saya, Mumbai bukan tempat wisata.

Top tourist destination-nya India kebanyakan di sekitar Agra, Delhi dan Jaipur. Kalau mau ke sana perlu naik pesawat 2 jam dari Mumbai. Bagi yang suka wisata alam, Jammu and Kashmir, Himachal pradesh adalah salas satu destinasi wisata alam India yang terkenal.

Tapi jangan salah ya gaes, ada juga tempat-tempat hits yang perlu dicoba di Mumbai. Bagi saya berkunjung ke tempat yang baru selalu menyenangkan 🙂 . Bukan melulu tentang tempat yang cantik dan pemandangan oke, terkadang interaksi dengan warga-nya yang menurut saya bisa menjadi pengalaman seru, disamping bisa mencoba hal baru yang tidak ditemukan di tempat lain. So, Mumbai is definitely worth a visit!

Kalau kebetulan sedang di Mumbai dan perlu referensi tempat piknik, Saya merekomendasikan untuk mengunjungi tempat-tempat berikut ini:

1. Gateway of India

20161008_152253.jpg

Gateway of India

Tempat ini paling banyak dikunjungi wisatawan lokal atau mancanegara dan tidak ada tiket masuk alias GRATIS. Tapi, kalau mau masuk kawasan ini, ada scanner, jadi semua barang bawaan kita akan dicek. Kita juga akan di ‘raba-raba’ oleh petugas security nya 😆 . Jalur masuk cewek ama cowok di pisah kok, tenang 🙂 .

Asik nya ngapain disana? foto-foto aja 🙂 Iya, gak ada hal lain yang menyenangkan selain selfie! Hati-hati di tempat ini banyak sekali jasa tukang foto on the spot (apa ya istilahnya?). Kadang sedikit maksa.

Anyway, monumen ini dibangun pada tahun 1924 untuk mengenang kunjungan pertama King George V dan Queen Mary yang mana India sempat menjadi jajahannya Inggris waktu itu. Zaman dulu, area tersebut adalah pelabuhan paling penting dan ramai sehingga jikalau ada orang asing pertama kali menginjakan kaki di India, disambut oleh monumen tersebut. Oia, bangunannya cukup bagus, cukup terawat dan aura klasik nya masih terasa.

2. Taj Mahal Palace Hotel

20161101_115945.jpg

Taj Mahal Palace Hotel

Ini bukan Taj Mahal yang di Agra ya. Yang ini ini namanya Taj Mahal Palace. Lokasinya berdekatan dengan Gateway of India. Ini hotel bintang lima yang dibangun awal abad 19 oleh TATA corporation. Kabar beredar bahwa TATA membangun ini setelah sempat ditolak ketika hendak memasuki hotel yang hanya diperuntukan untuk orang-orang kulit putih. Ouch, sakitnya tuh disini. 

Bangunannya masih terawat dan sangat klasik. Memang, daerah sekitar Colaba ini banyak sekali heritage building yang dijadikan kantor dan semuanya masih terawat. Daerah ini juga kawasan elit di Mumbai yang tentunya jauh lebih bersih dan nyaman dibanding daerah lainnya. Enak deh pokoknya 😉

3. Chhatrapaji Shivaji Maharaj Vastu Manghalaya

20161101_121357

Museum Mumbai

Dulu tempat ini bernama Prince of Wales Museum of Western India. I’m not really a museum kind of person sebenernya, jadi kurang faham dan tidak bisa banyak berkomentar. Buat orang awam kaya saya, tempat ini worth it dan berhubung jaraknya dekat dari dua tempat sebelumnya, tidak ada salahnya untuk dicoba, kan 😉 .

20161101_131438

Mas-Mas Ganesha

Koleksinya menurut saya cukup lengkap. Isinya ada patung-patung dewa wisnu, shiva, ganesha, dewi lakshmi, dll. Ada juga ukiran-ukiran, kemamik-keramik kuno dan koleksi lukisan. Semuanya berasal dari mulai jaman pra-sejarah India hingga beberapa ratus tahun ke belakang.

Saya sarankan untuk meminjam audio guide di reception museum. Cuma dengan menukar identitas (bisa juga kunci hotel), kita dikasih pinjam audio set dengan beberapa bahasa. Di setiap benda ada nomornya, nah kita tinggal pencet nomor itu dan ada penjelasan mengenai sejarahnya. Lumayan nambah wawasan.

4. Chhatrapati Shivaji Terminus (CST)

2016-11-01 07.39.39 1.jpg

Pemandangan Victoria Terminus di Sore hari. Cantik!

Tempatnya keren menurut saya. Berada di tempat ini rasanya seperti berasa di Eropa untuk sesaat. Ini adalah salah satu bangunan di Mumbai yang merupakan UNESCO world heritage site. Best view nya adalah saat sore hari, saat sinar matahari menyorot langsung dan membuat gedung ini tampak mewah dan berwarna keemasan. Kalau pagi, biasanya backlight. Bangunan bergaya victoria dengan sentuhan bangunan mughal tradisional ini dibangun abad ke-18 saat India masih diduduki oleh Inggris. Sekarang jadi kantornya Mumbai Central Railway Station. Tepat di pinggir gedung ini ada stasiun paling sibuk di Mumbai yang melayani rute jauh maupun commuter.

20161007_083241.jpg

Another heritage building next to CST. It’s now Municipal Corporation Building

Oia, pernah suatu hari iseng naek kereta dari CST ke Andheri, yang jaraknya sekitar 40 km. Hmmh, padet luar biasa. Awal-awal memang kosong, makin lama makin padet dan pas turun susah banget dan dorong-dorongannya cukup sadis. Berdesakan melebihi padetnya mudik atau antri sembako. Banyarnya murah sih, cm 10 rupee (Rp 2000) :mrgreen:

Sebaiknya jangan tergoda untuk mencoba kereta jarak dekat di India. Saya ulangi, JANGAN PERNAH. Tapi, seru juga sih nyoba hal-hal semacam begini 🙂 .

5. Marine Drive

2016-10-09 03.42.56 1.jpg

Marine Drive

Kawasan bisnis di Mumbai ini tempat yang oke buat nongkrong, terutama sore menjelang malam. Kalau siang, panas nya ampun-ampunan brooo. Selain konkow, banyak orang jogging disekitar situ karena emang nyaman dan bersih. Jalanan nya juga rapi, walaupun sedikit macet. Tempat ini juga kadang dijadikan tempat syuting sinetron-sinetron bollywood katanya. Sering-sering maen kesini aja ya, siapa tahu ketemu Kajol 😳 .

20161008_164524_001.jpg

Jalanan di Marine Drive

20161008_140121.jpg

Bandra-Worli Sea link

Kalau tinggal di suburb Mumbai dan mau jalan-jalan di Marine Drive sebaiknya datang lewat Bandra-Worli Sea Link, toll di atas laut yang menghubungkan Bandra (sub-urb Mumbai) dengan Worli (deket Marine Drive). Kalau lewat jalur biasa, pasti macet dan lama. Keren juga sih menurut saya, megah banget toll nya.

6. Haji Ali Dargah

20161101_154652

Gerbang Menuju Haji Ali Dargah

Tempat ini sebenernya bukan tempat wisata, lebih tepat disebut tempat ziarah yang terdiri dari mesjid dan kuburan yang dianggap keramat oleh muslim Mumbai. Sebaiknya tidak mengunjungi tempat ini pada bulan Ramadhan atau hari-hari penting umat Islam (semacam hari asyura, dll). Padet banget masyaallah 🙄 .

Kalau kata mamang Wikipedia, konon jaman dulu, ceritanya ada seorang saudagar dermawan dan sakti bernama Sayyed Peer Haji Ali Shah Bukhari yang meninggalkan seluruh kekayaannya untuk pergi ke tanah suci. Namun, beliau meninggal di perjalanan dan sebelumnya meminta para pengikutnya untuk meletakan peti dan jasadnya ke Laut Arab (sebelah barat Mumbai), namun malah kembali terdampar di sekitar batu karang 500 m di lepas pantai Worli. Di sana lah dibangun mesjid dan kuburan beliau di tahun 1431.

Btw, bangunananya bagus sebenarnya, terbuat dari marmer. Semuanya. Namun, berhubung pemeliharaannya kurang baik, disamping pengunjung yang juga membludak setiap harinya, jadinya terlihat biasa aja.

20161101_154800

Jalan utama dari Haji Ali Dargah ke Kota Mumbai

Sepanjang jalan disana, banyak pengemis dan pedagang. Kadang mereka maksa sampai tarik-tarik tangan (duh pak semangat amat ya berjualan 🙄 ). Hati-hati dompet ya gaes. sepanjang ke sana saya ga berehenti pegang dompet takut kenapa-napa.

Di pinggirnya ada juice center. Cukup favorit, namun entahlah saya agak kurang selera. Selain tempatnya becek juga kelihatan kurang higienis. Hmm, nggak deh, makasih. Tapi kalau emang haus banget, ada yang lebih bersih, namanya ‘Haji Ali juice Center’, kaya bar gitu, cuma mahal harganya.

20161101_153220.jpg

Juice Center

7. Juhu Beach

20161016_163754.jpg

Juhu Beach Cowpatti

Juhu beach adalah kawasan tempat bermukimnya bintang-bintang bollywood semisal Amitabh Bhachan, Aishwarya Ray, Kajol, Hrithik Rosan, Akhsay Kumar, dll (you name it!). Sharukh Khan dan Salman khan tinggalnya di daerah Bandra, deket Juhu. dan artis favorit saya, Priyanka Chopra tinggalnya di Andheri 😳 . Oia, di Juhu banyak sekali hotel-hotel dan apartemen mewah. Pantainya menurut saya biasa aja, apalagi kalau pernah jalan-jalan ke pantai cantik semaacam Pink Beach, Ngurtavur, dll. Hmm, lewat deh!

Ngomong-ngomong ya, itu rumah Amitabh Batchan setiap hari selalu padet. Katanya beliau dianggap seperti national hero. Tokoh kesayangan warga India. Sepulangnya dari Juhu beach, saya lewat sebuah rumah besar dan ramai dengan orang-orang. Saya sampai menyangka “ada demo apa ya ini?” saat lewat jalanan situ. Sopir taxi bilang itu rumah beliau dan ternyata emang tiap hari begitu. Gila ya bro! 😯 . Semoga beliau selalu sehat-sehat ya.

8. Sanjay-Gandhi National Park

20161011_092413

Sungai di Sanjay-Gandhi National Park

Gak nyangka ya ditengah kota mumbai ada national park. Kalau mulai bosan dengan hiruk pikuk kota, saya sarankan untuk sesekali menghirup udara segar di taman national ini. Pas libur, banyak warga Mumbai yang sekedar jogging atau piknik santai bareng keluarga. di sini juga bisa liat secara langsung hewan-hewan semacam monyet dan rusa. Katanya sih ada harimau juga. Kalau suka main ke goa, di tempat ini juga ada goa terkenal bernama Kanheri cave, cuma perlu naik bis dan bayar sekitar 40 rupee saja. Waktu itu gak sempet kesana, cuma jalan-jalan santai saja.

20161011_100710.jpg

Dussehra celebration oleh warga-warga sekitar Taman National

9. Jalan-jalan ke Mall dan Pub

Menurut saya pribadi, no offense, Mall di mumbai tidak se-fancy mall di Jakarta. Mall terbilang besar diantaranya R-city, Phoenix Marketcity, Palladium dan Oberoi mall. Kata orang-orang juga, pub disini happening banget, kataya dunia malam nya mumbai itu paling hits se-India. Berhubung saya ga suka nge-pub dan teman-teman saya nya juga ga doyan (kami anak sholeh, akhyy 😉 ) Jadi kami hanya maen disekitaran mall.

Orang orang sini pada doyan minum, jadi anak-anak mudanya, kadang bos gue yang agak tua juga, suka ke Pubs. Saya pernah sekali ke Mall Paladium (High Street Pheonix ) di lantai atasnya ada pubs, Socials, lumayan lah bisa minum-minum.

10. Festival-festival di India, terutama Ganesh Chchatturthi

Festival di India merupakan hal yang tak boleh dilewatkan. Seru! Banyak warga negara asing yang sengaja ke India hanya untuk melihat langsung. Festival itu emang hari besar Hindu, tapi orang India umumnya senang merayakan dengan tari-tari, musik, lampu2, tabur2an tepung berwarna, dsb tergantung jenis festivalnya. Festival paling rame di Mumbai itu namanya Ganesh Chatturti, dijamin paling rame se-antero India. Daerah India lain mungkin sekedar doa-doa aja, di Mumbai sampai gila banget. Kalau skejulnya pas, jangan coba lewatkan yahh 🙂

20161011_204304.jpg

Pawai warga saat Diwali festival

Waktu kesana, saya melihat dua festival; Diwali dan Dussehra. Kalau di Mumbai kurang festive dibanding daerah selatan. Diwali itu semacam lebaran nya orang Hindu India. biasanya mereka di rumah menghabiskan waktu bersama keluarga. Rumah dihias lampu. berdoa. Saling kasih hadiah.

Kalau di daerah hotel tempat saya tinggal, Andheri East, warga biasanya pawai pake truk besar sambil bawa patung dewa-dewa dan setel musik super keras. Yang perempuan pada pake sari di belakang truk sambil nari-nari, yang laki-laki ngiktin dibelakangnya, nari-nari juga 😯 . Hmm, sumpah ya mereka jago banget macam di film-film. Kadang mikir, jangan-jangan bayi baru brojol aja udah jago nari kayanya :mrgreen: . Salute deh ama mereka, seru abis.

Lain-lain:

Ada Film City dan Elephanta Cave. Belum sempat tereksplore, insyaallah kalau ada waktu, mau banget kesana.

Seru kaaan Mumbai. Jangan lupa Piknik ya gaes biar otak ga error :mrgreen: .

Jai, maharashtra!